Bicara revitalisasi kawasan Jakarta lama, khususnya kawasan Taman Fatahillah, tentu satu paket dengan obrolan tentang tempat makan minum yang cuma semata wayang di situ. Sebuah kafe yang bercitra ’hanya untuk turis’ berdiri tegar di ujung Jalan Pintu Besar Utara, tegar menantikan datangnya revitalisasi yang sesungguhnya. Namanya tentu sudah tidak asing lagi, Cafe Batavia.
Masuk ke dalam kafe ini, di benak banyak orang tentu merupakan suatu keistimewaan. Desain ‘wah’ menyapa pengunjung. Interior kafe ini juga artistik, dengan tampilan berbagai foto pilihan di dinding, bahkan hingga ke dinding toilet. Kafe mahal menjadi citra yang melekat kuat. Meski tak terlalu salah jika ada yang beranggapan bahwa kafe ini dikhususkan bagi ekspatriat dan wisatawan mancanegara (wisman).
”Target kita sebenarnya enggak hanya ekspatriat dan wisman tapi juga turis domestik dan lokal,” kata sang pemilik, Eka Chandra Setiadi, kepada Warta Kota beberapa waktu lalu.
Satu hal yang pasti, tempat ini nyaman. Begitu masuk ke kafe dan meneguk segelas es teh manis rasanya enggan keluar lagi. Apalagi di saat matahari terik. Menurut Chandra, makanan yang disajikan meliputi menu Barat dan Chinese dengan dim sum tentunya. Jika ingin mencoba menu Indonesia seperti sop buntut atau nasi goreng, tempat ini juga menyediakan.
Tapi, memang, menu sandwich jadi andalan. Sebut saja open smoked salmon. Ikan salmon yang sudah diasap dipotong tipis-tipis ditemani berbagai sayuran seperti selada air, tomat ceri, seledri dan alpukat dengan potongan sandwich. Porsinya besar, tentu saja, karena buat perut wisman. Harga juga cukup menyedot isi kocek, Rp 85.000.
Jika hanya ingin yang ringan-ringan, ada sup jagung kepiting yang bakal bikin mulut dan perut minta tambah. Untuk yang satu ini, seporsi dibanderol Rp 38.000. Pancakes berlumur sirup maple dan es krim vanila bisa ditukar dengan Rp 45.000, sedangkan minuman segar yang bisa dicoba antara lain Fatahillah Punch seharga Rp 33.000 berisi campuran nanas, jambu, dan tomat. Perlu diingat, makan di sini tak hanya membeli menu yang ada tapi juga suasana. Terlebih, tempat ini ibarat museum yang kisahnya siap dijajaki pengunjung.
Untuk pesanan menu masakan China, menurut Nita Rosita, PR Café Batavia, ditangani koki asal Hongkong sementara untuk menu Barat semula menggunakan chef asal Perancis namun kini dikerjakan oleh sang asisten.